Kamis, 22 Desember 2011

IBN SAB’IN


IBN SAB’IN
Oleh: H. Ahmadi Isa

        Ibn Sab’in dipandang lebih tegas ketimbang Ibn ‘Arabi dalam menegasikan pluralitas maupun menekankan kesatuan. Karena itu alirannya dikenal sebagai paham kesatuan mutlak.
          Ibn Sab’in nama lengkapnya adalah ‘Abdul Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr, seorang sufi yang juga filosof dari Andalusia. Dia terkenal di Eropa karena jawaban-jawabannya atas pertanyaan Kaisar Frederick II, penguasa Sicilia. Dia dipanggil Ibn Sab’in dan digelari Quthbuddin, terkadang dia dikenal pula dengan Abu Muhammad dan mempunyai asal-usul Arab, dan dilahirkan tahun 614 H/1217-1218 M, di kawasan Murcia. Dia mempelajari bahasa Arab dan sastra pada beberapa orang guru. Dia juga mempelajari ilmu-ilmu agama dari Madzhab Maliki, dia juga belajar ilmu-ilmu logika, dan filsafat. Dia mengemukakan bahwa di antara guru-gurunya itu adalah Ibn Dihaq, yang dikenal dengan Ibn al-Mir’ah (w. 611 H), pensyarah karya al-Juwaini, Al-Irsyad. Karena Ibn Sab’in lahir tahun 614 H, sementara gurunya, Ibn Dihaq meninggal tahun 611 H, jelas bahwa Ibn Sab’in menjadi murid Ibn Dihaq hanya lewat kejiannya terhadap karya-karya tokoh tersebut. Begitu juga dalam hal hubungannya dengan dua gurunya yang lain, yaitu al-Yuni (w. 622 H) dan al-Hurrani (w. 538 H), yang keduanya ahli tentang huruf maupun nama. Menurut salah seorang murid Ibn Sab’in, yang mensyarah kitab Risalah al-‘Ahd, hubungan antara Ibn Sab’in dan para gurunya tersebut lebih banyak terjalin lewat kitab ketimbang secara langsung.
          Ibn Sab’in tumbuh dewasa dalam keluarga bangsawan. Ayahnya adalah penguasa kota kelahirannya Murcia. Begitu pula dengan nenek-moyangnya, juga dari kalangan para penguasa. Menurut sebahagian para penulis biografinya, Ibn Sab’in hidup dalam suasana penuh kemuliaan dan kecukupan. Tampaknya, dalam kehidupan selanjutnya, dia  menjauhi kesenangan hidup, kemewahan, kekuasaan, dan hal-hal yang bersifat duniawi, dan seterusnya hidup sebagai seorang asketis (zahid), menjalani kehidupan  sufi. Dalam kehidupan kesufian ,dia banyak mempunyai pengikut.
          Di tahun 640 H, Ibn Sab’in dengan sebahagian para pengikutnya pergi meninggalkan Murcia menuju Afrika Utara. Ada yang menuturkan bahwa kepergiannya tersebut adalah akibat pernyataannya sebagai berikut : “Mengapa Muhammad putera Aminah itu memperciut alam yang luas ini dengan ucapannya ; setelahku tidak ada lagi nabi.” Dalam pernyataannya tersebut terkandung makna bahwa kenabian bisa diraih dengan belajar. Ucapan Nabi itu, menurut Ibn Sab’in, tidak benar.
Ada pula yang meriwayatkan bahwa mungkin pula dia meninggalkan negerinya tersebut karena faktor-faktor politis, antara lain karena melemahnya kekuasaan Dinasti al-Muwahhidin serta berakhirnya masa kebebasan berpikir di Andalusia.
Atau mungkin pula kepergiannya dari tempat kelahirannya disebabkan oleh tekanan dari para fukaha yang membuatnya tidak kerasan mengajarkan ajarannya di Andalusia.
          Di Afrika Utara, pertama-tama, Ibn Sab’in menjejakkan kakinya di Ceuta. Ketika itu yang menjadi penguasa wilayah tersebut adalah Ibn Khaladh. Di kota ini dia tinggal selama beberapa waktu dengan para pengikutnya, dalam usaha menyeberluaskan tarikatnya. Di sini pula dia dikagumi wanita kaya, yang akhirnya nikah dengannya. Wanita itu lalu menyerahkan semua kekayaannya kepada Ibn Sab’in serta mendirikan rumah maupun zawiah baginya. Di kota Ceuta ini pula Ibn Sab’in banyak menelaah berbagai kitab tasawuf serta mengajarkannya, sehingga banyak kaum awam ikut mempelajarinya. Selama tinggal di kota itu pulalah Kaisar Frederick II (1194-1250 M) menanyainya tentang empat masalah filsafat, yang berkisar seputar filsafat Aristoteles. Tampaknya dengan jawaban-jawaban yang diberikan Ibn Sab’in terhadap pertanyaan-pertanyaan Kaisar Frederick II, penguasa kota tersebut, maka dia dapat mengetahui bahwa Ibn Sab’in adalah seorang filosof. Penguasa tersebut tidak senang dengan filsafat. Akibatnya Ibn Sab’in, dia diusir dari kota tersebut.
        Dari Ceuta, Ibn Sab’in lalu pergi ke al-‘Adwah, lalu terus menuju Bijayah. Di kota ini dia tinggal untuk beberapa lama, dan dari sana terus pergi ke Qabis, Tunisia. Tetapi di asitu dia dimusuhi seorang faqih, yang bernama Abu Bakr ibn Khalil al-Sukuni. Akhirnya Ibn Sab’in memutuskan pergi ke dunia Islam bahagian Timur.
          Pada tahun 648 H, Ibn Sab’in sampai di Kairo, Mesir. Namun, para fuqaha (ahli fikih) dunia Islam bahagian Barat mengirim seorang utusan ke Mesir, memperingatkan penduduk negeri itu bahwa Ibn Sab’in adalah seorang ateis yang menyatakan kesatuan Khalik dengan makhluk. Mungkin karena penduduk Mesir kurang begitu antusias menyambutnya. Di samping itu, di Mesir juga dia dimusuhi Quthbuddin al-Qasthalani (w. 686 H), yang menyusun sebuah karya tulis untuk menentang pendapatnya. Karena itulah sekali lagi dia harus pergi, dan untuk kali ini dia pergi ke Makkah. Penguasa Makkah ketika itu ialah Abu Nami, seorang syarif, dan menyambut baik kedatangannya. Kepergian Ibn Sab’in dari Mesir ke Makkah ini dikarenakan dia dituduh menyebarluaskan ajaran Syi’ah. Ibn Sab’in sendiri mengemukakan bahwa justru al-Zhahir Baybars, penguasa Mesir ketika itu, yang meminta agar dia meninggalkan negeri tersebut. Dia tidak berada di Makkah ketika al-Zhahir Baybars mengunjungi Makkah, tahun 667 H, untuk melaksanakan ibadah haji.
          Di Makkah, Ibn Sab’in memperoleh kehidupan yang tenang dan tenteram. Dan dia kembali menyiarkan seruannya, menyusun sebahagaian karya tulisnya, dan menulis  bai’at penduduk Makkah kepada Sultan Zakaria ibn Abu Hafsh, raja Afrika. Di kota ini pulalah dia mengadakan korespondensi dengan Najmuddin ibn Israili, murid Ibn ‘Arabi. Di samping itu dia juga mempunyai hubungan yang baik dengan raja Yaman, yaitu al-Muzaffar Syamsuddin Yusuf, walaupun seorang menteri raja tersebut membencinya. Kemudian pada dua tahun terakhir dari kehidupannya, fiqaha Makkah pun mulai memusuhinya, sehingga dia berencana untuk pergi ke India, tetapi sebelum keinginannya itu tercapai, ia meninggal dunia  tahun 669 H. Diriwayatkan bahwa dia meninggal karena bunuh diri, tetapi hal ini disangsikan kebenarannya. Dalam versi lain disebutkan bahwa dia meninggal karena diracun menteri Yaman yang membencinya. Dugaan kuat adalah dia meninggal dunia secara wajar. Kisah kematiannya, baik karena bunuh diri ataupun diracuni, lebih banyak digembar-gemburkan oleh musuh-musuhnya yang cukup banyak, baik musuh ketika dia masih hidup mapun ketika dia sudah meninggal dunia.
          Ibn Sab’in meninggalkan karya tulis sebanyak empatpuluh satu buah, yang menguraikan tasawuf secara teoritis maupun praktis, dengan cara yang ringkas maupun panjang-lebar. Kebanyakan karya tulisnmya telah hilang. Sebahagian risalahnya telah disunting oleh ‘Abdurrahman Badawi dengan judul Rasa’il Ibn Sab’in (1965 M). Dan karya tulisnya yang lain, Jawab Shahih Shiqiliyah, telah disunting oleh Syarifuddin Yaltaqiya. Adapun karya tulisnya yang terpenting, Budd al-‘Arif, disunting oleh Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani.
          Karya-karya tulis Ibn Sab’in pada umumnya bercorak simbolis dan bagitu samar maknanya. Dalam karya-karya tulisnya tersebut dia terkadang memakai sibol-simbol, seperti halnya para ahli huruf serta nama, untuk menguraikan alirannya. Dia termasuk kelompok yang menggeluti ilmu huruf serta nama, dan juga mempunyai karya tulis tentang ilmu tersebut.
          Dari karya-karya tulisnya itu tampak bahwa pengetahuan Ibn Sab’in cukup luas dan beraneka ragam. Dia mengenal berbagai aliran filsafat Yunani, dan filsafat-filsafat Hermetisisme, Persia, dan India. Di samping itu, dia juga banyak menelaah karya-karya tulis filosof-filosof Islam dari dunia Islam bahagian Timur, seperti al-Farabi dan Ibn Sina, dan filosof-filosof Islam yang berasal dari dunia Islam bahagian Barat, seperti Ibn Bajah, Ibn Thufail, dan Ibn Rusyd. Bahkan dia begitu menguasai kandungan risalah-risalah Ikhwan al-Shafa, dan secara terperinci dia mengetahui aliran-aliran teologi, khususnya aliran Asy’ariyyah. Pengethaun nya tentang aliran-aliran tasawuf begitu mendalam. Dan hal ini semua tampak jelas terlukis di dalam kritiknya terhadap para filosof, teolog, dan para sufi sebelumnya. Di sisi lain ke semua itu, dia juga menguasai seluk beluk aliran-aliran fikih.
          Ibn Sab’in dalam bidang tarikat, menganut tarikat al-Syudzliyyah, tarikat yang dinisbatkan kepada pendirinya al-Sudzi dari Sevilla, guru Ibn Dihaq. Tarikat ini memadukan antara tasawuf dengan filsafat, dan merupakan kelanjutan dari aliran Ibn Masarrah (269-319 H) yang besar pengaruhnya terhadap para sufi Andalusia, khususnya sufi filosof. Dalam karya-karya tulisnya, Ibn Sab’in sering menyebut nama Ibn Masarrah dan murid-muridnya, sekalipun dia melancarkan kritik tajam terhadap mereka. Dia menguasai filsafat Ibn ‘Arabai, tetapi dia menilainya  sebagai filsafat yang sudah  usang. Karena itu sulit kita mamasukkan Ibn Sab’in sebagai penganut aliran Ibn ‘Arabi.
          Ibn Sab’in mendirikan tarikat yang dikenal dengan tarikat al-Sab’iniyyah. Para pengikutnya memakai pakaian khusus yang dikecam oleh fuqaha (ahli fikih), dan tarikat ini mempunyai sanad yang aneh. Salah seorang muridnya, al-Syusytari, mengemukakan bahwa dalam sanad tersebut terdapat antara lain Hermes, Socrates, Plato, Aristoteles, Iskandar Agung, al-Hallaj, al-Niffari, Ibn Qisi, Ibn Masarrah, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Thufail, Ibn Rusyd, Abu Madyan al-Tilimsani, Ibn ‘Arabi, al-Harrani, ‘Adi ibn Musafir, dan Ibn Sa’in sendiri.
          Dari sini kita dapat memperoleh gambaran tarikat tersebut bercorak sinkretis dan memadukan berbagai aliran, yang di antaranya bercorak Islam, Yunani atau Timur kuno. Tampaknya tarikat tersebut tetap bertahan sampai ke masa Ibn Taymiyyah (w. 728 H). Para pengikut tarikat ini, di kota Iskandariah, mendapat kritikan dari Ibn Taymiyyah, ketika tokoh yang disebut terakhir ini berkunjung ke sana. Ibn Taymiyyah menyusun sebuah risalah yang isinya menolak tarikat tersebut dengan judul Kitab al-Masa’il al-Iskandariyyah fi al-Radd ;Ala al-Malahidah al-Ittihadiyyah al-Sab’iniyyah.
Di antara para sufi yang tergabung dalam tarikat al-Sab’iniyyah ialah Abu al-Hasan al-Syusytari, Yahya ibn Sulaiman al-Balanasi, dan Ibn Abi Wathil. Mereka semua adalah murid-murid Ibn sab’in. Tetapi tampaknya, sewaktu gurunya masih hidup, al-Syusytari mendirikan tarikat sendiri dan dikenal dengan tarikat al-Syusytariyyah, yang dia dirikan sewaktu Ibn Sab’in masih tinggal di Mesir.
        Ibn Sab’in adalah seorang pendiri sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan  esensial pahamnya tersebut sederhana saja, yaitu wujud adalah satu, yakni wujud Allah semata. Wujud-wujud lainnya hanya wujud Yang Satu itu sendiri. Jelasnya, wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama-sekali tidak lebih dari wujud Yang Satu semata. Dengan begitu maka wujud, dalam kenyataannya, hanya satu persoalan yang tetap.
          Paham ini lebih dikenal dengan sebutan paham kesatuan mutlak. Hal ini karena dia berbeda dari paham tasawuf yang memberi ruang-lingkup pada pendapat-pendapat tentang hal yang mungkin di dalam suatu bentuk. Kesatuan mutlak ini, atau kesatuan murni, atau menguasai, menurut terminologi Ibn Sab’in sendiri, hampir tidak mungkin mendeskripsikan kesatuan itu sendiri. Hal ini karena para pengikutnya terlalu berlebihan memutlakkannya; dan karena gagasan tersebut semua atribut, tambahan, ataupun nama. Dengan begitu pada gagasan ini tidak dikenakan konsepsi-konsipsi manusia.
          Dalam pahamnya ini, Ibn Sab’in menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. Sebab wujud Allah, menurutnya, adalah asal segala yang ada pada masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Sementara wujud materi yang tampak justru dia rujukkan pada wujud mutlak yang rohaniah. Dengan demikian, berarti paham ini dalam menafsirkan wujud bercorak spiritual, dan bukan material.
          Ibn Sab’in terkadang menyerupakan wujud dengan lingkaran ; porosnya adalah wujud yang mutlak alias luas, sementara wujud yang nisbi alias sempit, ada dalam lingkaran. Sebenarnya antara kedua wujud tersebut tidak ada perbedaan, sebab keduanya pada hakikatnya adalah satu. Karena itu, yang mutlak bisa dilihat di dalam yang nisbi serta kesatuan antara keduanya adalah mutlak. Ada kalanya Ibn Sab’in menggambarkan wujud Allah yang wajib dengan wujud yang mungkin dalam kedudukan sebagaimana materi dengan bentuk. Ringkasnya, tidak ada dua dan juga tidak sekali-kali banyak.
          Pemikiran-pemikiran Ibn Sab’in ini dia rujukkan dengan dalil-dalil Alquran, yang diinterpretasikannya secara filosofis ataupun khusus. Misalnya firman Allah : “Dia itulah Yang Awal dan Yang Akhir. Yang Dzahir dan Yang Bathin” (Al-Hadid [57] : 3), dan firman Allah : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (Al-Qashash [28] : 88). Terkadang dia memperkuat pahamnya dengan hadis-hadis Nabi, di antaranya dengan hadis qudsi sebagai berikut : “Apa yang pertama-tama diciptakan Allah adalah akal-budi. Maka firman Allah kepadanya, terimalah! Ia pun lalu menerimanya …” Tetapi Ibn Taymiyyah, di samping menolak dan mengecam keras pendapat Ibn Sab’in tentang kesatuan mutlak, menjelaskan bahwa interpretasi Ibn Sab’in terhadap nash-nash (teks-teks) agama tidaklah benar. Begitu juga dengan hadis qudsi yang dijadikannya landasan pendapatnya itu, hanyalah hadis buatan (maudhu’).
          Pendapat Ibn Sab’in tentang kesatuan mutlak tersebut,  merupakan dasar dari paham khususnya tentang para pencapai kesatuan mutlak ataupun pengakrab Allah. Pahamnya ini mirip dengan paham Hakikat Muhammad ataupun Quthub dari sebahagian para sufi yang juga filosof, seperti Ibn ‘Arabi dan Ibn Faridh, atau paham Manusia Sempurna (Insan al-Kamil) dari ‘Abdul Karim al-Jili. Pencapai kesatuan mutlak, menurut Ibn Sab’in, adalah individu yang paling sempurna, dan dalam diri si pencapai kesatuan mutlak terkandung segala kesempurnaan yang dimilki para faqih, teoloh, filosof, maupun sufi. Inilah pribadi yang melebihi mereka semua dengan pengetahuannya yang khusus, yaitu ilmu pencapaian yang menjadi pintu gerbang kenabian. Sesosok pribadi yang dari segi hakikat rohaniahnya justru bersatu dengan Nabi, yang mengendalikan semesta ; dan segala sesuatu disarkan padanya. Menengenai hal inilah seorang murid Ibn Sab’in, yang mensyarahkan Risalah al-Ahd, berkata : “Sampai kepada Allah itu mustahil terjadi, kecuali dengan Nabi. Nabi tidak mengenal Allah, kecuali dengan Warits, sementara Warits adalah pencapaian kesatuan mutlak. Orang-orang yang berakal-budi justru mencari Si Pencapai kesatuan mutlak serta benar-benar membutuhkannya … Inilah makna ucapannya (maksudnya, ucapan Ibn Sab’in), kesemua itu dari sahabat-sahabat kita ; dan ucapannya ; “Waktu maupun jihad adalah bercorak San’iniyyah tanpa lain ; karena dia melihat cakupannya, dan alam membutuhkannya dengan sangat.” Dari teks ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud Ibn Sab’in, adalah dirinya sendiri.
            Keaslian filsafat Ibn Sab’in terletak pada perbandingan yang dia buat antara aliran tentang kesatuan wujud dengan aliran-aliran fuqaha, teolog, filosof, maupun sufi, yang semuanya dia kaji dalam karyanya, Budd al-‘Arif. Dalam karya ini, dia menyatakan bahwa sebenarnya semua aliran tersebut telah keliru, dibanding dengan paham para pencapai kesatuan mutlaknya. Inilah yang dimaksud dengan apa yang disebutnya sebagai lima peringkat atau lima tokoh.
          Paham Ibn Sab’in tentang kesatuan mutlak, telah membuatnya menolak logika Aristotelian. Karena itu dalam karya tulisnya,  Budd al-‘Arif, dia berusaha menyusun suatu logika baru yang bercorak iluminatif, sebagai ganti logika yang didasarkan pada konsepsi jamak. Ibn Sab’in berpendapat bahwa bahwa logika barunya tersebut, yang dia sebut juga dengan logika pencapai kesatuan mutlak, tidak termasuk kategori logika yang bisa dicapai lewat penalaran. Tetapi termasuk hembusan Ilahi, yang membuat manusia bisa melihat yang belum pernah dilihatnya maupun mendengar yang belum pernah didengarnya. Dengan demikian, maka logika tersebut bercorak intuitif.
          Di antara kesimpulan-kesimpulan penting Ibn Sab’in, dengan logikanya tersebut ialaha bahwa realitas-realitas logika itu alamiah adanya dalam jiwa manusia; dan keenam kata logika (genus, species, difference, proper, accident, person), yang memberi kesan adanya wujud yang jamak, hanya sekedar ilusi belaka. Begitu juga halnya dengan kesepuluh kategori, sekalipun beraneka dan berbeda, namun, tetap menunjuk pada wujud tunggal yang mutlak. Dengan demikian, dia menghubungkan kategori-kategori tersebut dengan wujud yang tunggal, sebagaimana yang dikatakannya mengenai hal itu : “Anda melihat bahwa kesepuluh kategori itu beraneka dan berbeda serta disebut dengan wujud ataupun sesuatu yang satu, tidakkah ini hanya sekedar sinonim semata ?” Jelasnya Ibn sab’in menjadikan kesepuluh kategori tersebut sebagai satu jenis atau di bawah jenis yang satu. Dalam hal ini dia berbeda pendapat dengan Ibn Rusyd yang dalam karya tulisnya, Talkhish Ma Ba’da al-Thabi’at, mengemukakan bahwa Aristotelis juga  menentang pendapat yang menyatakan bahw kategori-kategori tersebut berada di bawah kesamaan jenis dengan kategori pertama dari pendengaran. Bukti dari pendapat Ibn Sab’in, yang menjadikan kategori-kategori  tersebut di bawah jenis yang satu adalah ucapannya : “Tidak ada pokok pembahasan kecuali satu, yaitu substansi yang meliputi semua kategori (yang sempilan0 berikutnya. Dan ini adalah jenis yang tertinggi.” Dengan demikian, Ibn Sab’in menerapkan alirannya, dalam kesatuan wujud, pada ruang-lingkup logika Aristotelian, untuk selalu membuktikan bahwa semua bahasan logika tersebut, yang selalu mengesankan terdapatnya hal yang jamak dalam wujud, hanya sekedar ilusi semata. Terkadang dia juga mengkaji sebahagian bahasan logika untuk menunjukkan keseiringan mereka dengan pahamnya sendiri.
          Ibn Sab’in juga mengembangkan pahamnya tentang kesatuan mutlak ke berbagai bidang bahasan filosofis. Misalnya, menurutnya, jiwa dan akal-budi tidak mempunyai wujudnya sendiri ; tetapi wujud keduanya berasal dari yang satu, dan yang satu tersebut justru tidak terbilang. Jelasnya, keduanya tidak keluar dari masalah wujud yang satu.
          Menurut Ibn Sab’in, moral juga ditandai corak kesatuan mutlak. Bahkan kebaikan, kelezatan, dan kebahagiaan, terletak pada realisasi dari kesatuan itu. Dari segi hakikat wujudnya, tidak ada perbedaan kebaikan dengan kejahatan. Sebab wujud itu hanya satu. Jadi, dari manakah muncul kejahatan dalam wujud ?
          Untuk mencapai kesatuan mutlak menurut Ibn Sab’in tidak bisa di beri atribut sebagai seseorang yang bahagia, sebab dia adalah kebahagiaan itu sendiri, kebaikan itu sendiri, dan kedermawanan itu sendiri.
          Yang menarik perhatian dari pandangan Ubn Sab’in ialah bahwa latihan-latihan rohaniah praktis, yang bisa mengantarkan pada moral luhur, tunduk di bawah konsepsinya tentang wujud. Misalkan saja zikir seorang pencapai kesatuan mutlak adalah ungkapan : La Maujuda Illallah (tidak ada Wujud  selain Allah)”, sebagai ganti : “La Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah)”. Si penzikir dalam zikir ini sendiri adalah yang zikir. Sementara tingkatan dan keadaan, yang merupakan buah dari zikir, juga tidak keluar dari ruang-lingkup kesatuan mutlak tersebut.
          Demikian pula halnya dengan pendapatnya tentang hidup menyendiri maupun mengisolasi, puasa, dan doa, bahkan juga mendengar, kesemuanya it6u mengantar seseorang peenempuh jalan ataupun musafir sufi ke suatu keadaan sirna (fana’), dan tambahan lagi merealisasikan kesatuan mutlak baginya.



































Tidak ada komentar: